Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Buku “Subconscious Mind Writing” Muncul di Kompas

I Ketut Suweca

Koran Kompas terbitan Selasa, 21 Februari 2012, baru saja saya baca. Ada banyak artikel menarik di sana. Di antaranya adalah artikel mengenai Merry Riana yang sukses menjadi pengusaha, berhasil pula menjadi penulis dan motivator.
Yang paling menarik ialah rubrik Bibliotika! pada halaman 35 koran tersebut. Gambar buku karyaku yang diterbitkan oleh Udayana University Press tahun 2011, muncul di situ, disertai dengan ulasan yang cukup untuk memperkenalkan buku berketebalan xiv + 182 dan berbandrol Rp.45.000,- kepada khalayak.
Buku tentang teknik menulis artikel untuk media massa dan dorongan menulis ini sudah beredar di toko-toko buku di Indonesia. Di antaranya di TB Gramedia dan Togamas yang tersebar di beberapa kota besar.

Nah, bagi Anda yang ingin mendapatkan rahasia sukses menjadi penulis artikel di media massa dan ingin merasakan motivasi yang kuat sehingga tergerak menulis, segera dapatkan dan bacalah buku ini. Petiklah manfaat dari buku penuh inspirasi ini.
Read more ...

Untaian Kata Penggugah Semangat Menulis

I Ketut Suweca

Sahabat kompasianer, apa kabar? Semoga sehat dan tetap bergairah menuangkan ide-ide melalui artikel di media kompasiana tercinta. Jika sekiranya diantara sahabat perlu penyemangat menulis karena merasa mentok, macet, atau malas, simak dan resapilah untaian penggugah yang saya petik dari berbagai sumber, berikut ini.
***
“Kuatkan alasan yang menggerakkan hasrat untuk segera menulis. Dengan motivasi yang kuat, niat kita tak akan berkubang menjadi rencana belaka. Kita harus membentuk spirit yang mantap dan beraksi konkret jika ingin segera melahirkan karya.” (Alberthine Endah)
***
”Menulis bukan lagi sebuah kerja elite, sulit, mahal, dan artifisial sebagaimana mulanya. Menulis kini adalah sebuah kerja ‘alamiah’, seperti kita minum, tidur, beranak, bersenandung, atau mencoret-coret gambar. Ia adalah satu kebutuhan dasar. Ia adalah ukuran adab dan kebudayaan. Dan, manusia terisap di dalamnya. Manusia harus bisa menulis, bahkan menjadi penulis.” (Radhar Panca Dahana)
***
“Aku memaksakan diriku untuk mulai menulis di saat aku sudah sangat lelah, ketika aku merasa jiwaku setipis kartu remi, ketika tidak ada sesuatu pun yang tampaknya pantas untuk dilakukan untuk lima menit berikutnya. Dan… kegiatan menulis itu ternyata dapat mengubah segalanya.” (Joyce Carol Oats)
***
“To be a writer, you must be curious about everything around you, feel more deeply and have more understanding of things than other people.” (Lin Yutang)
***
“Orang yang berbakat gagal melihat masalah sebagai hambatan. Sedangkan orang sukses melihat masalah sebagai tantangan yang membuat hidup lebih bergairah. Demikian pula dalam menulis.” (Mohammad Fauzil Adhim).
***
“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis, suaramu tak akan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” ( Pramoedya Ananta Toer).
***
“Membaca, membaca, membaca, jangan lupa membaca. Hidupkan, hidupkan, jangan lupa … menulislah, menulis, dan menulis …” (George Simenon).
***
Dalam bingkai semangat berbagi, untaian penggugah semangat ini saya hadirkan untuk para sahabat yang menyukai dunia tulis-menulis. Tiada lain maksudnya, agar gairah kita berkarya yang mungkin sempat redup, bersinar kembali.
Read more ...

Djenar Maesa Ayu : Inspirasi Tidak Bisa Dicari!

Djenar Mahesa Ayu
Aku duduk di sofa ruang tamu setelah usai mengerjakan pekerjaan terkait studiku. Aku ngobrol bersama istri sambil nyeruput secangkir kopi. Kopi hangat yang ditemani  dua potong kue basah menjadi begitu nikmat disantap saat  udara dingin seperti saat ini.

Hujan masih mengguyur bumi . Satu jam berlalu, tapi belum juga reda. Tetesan-tetesan  airnya yang ditiup angin  membasahi teras rumah.
Tiba-tiba petugas pengantar koran datang. Seperti biasa, ia membunyikan bel sepeda motornya. Aku bergegas menuju pintu pagar rumah untuk mengambil koran Kompas yang kami langgani sejak 7 bulan terakhir.
“Hujan-hujan Pak. Nggak tunggu reda dulu?” sapaku kepada pengantar koran itu.
“Ya, gimana lagi, harus diantar, biar nggak kesiangan Pak,” sahutnya.

Ia pun dengan cepat mengeluarkan koran dari bawah jas hujan dan menyerahkannya kepadaku. Kuterima koran itu dan melindunginya dari basah dengan memasukkan di balik baju yang kupakai. Tak lupa kusampaikan terima kasih kepada pengantar koran yang berdedikasi itu. Kuberlari masuk kembali ke rumah.
“Mandilah dulu,” kata istriku tiba-tiba.
“Sebentar saja,” sahutku seraya mulai membuka koran itu halaman demi halaman.
“Pa, sebaiknya mandi dulu, nanti setelah mandi, baru baca koran,” saran istriku yang hafal dengan kebiasaaku kalau sudah membaca koran atau buku, acap  lupa segalanya, he he he.
“Ya, iya, lihat judul-judulnya saja dulu,” kataku sekenanya.
Eh, ada yang menarik perhatianku.  Pada halaman 32, Kompas edisi Sabtu, 14 januari 2012, tertera judul Djenar Maesa Ayu Ketagihan Menulis.   Biasalah, kalau artikel atau pembicaraan tentang tulis-menulis  so pasti selalu menarik perhatianku.

Novelis  ngetop, Djenar Maesa Ayu, bakal meluncurkan antologi cerpen T(w)ITIT!-nya tepat di-ultah-nya yang ke-39, 14 Januari. Hebatnya, ia bisa menyelesaikan 10 dari 11 cerpen dalam antologinya itu hanya dalam 10 hari. Berarti, satu hari satu cerpen! Pantaslah kalau ia bilang bahwa inspirasi itu tidak bisa dicari. Sebaliknya, inspirasilah yang mendatangi seseorang. Saat dibalut inspirasi, Maesa Ayu bekerja seperti orang kesetanan.

Bagi para penulis fiksi, proses kreatif itu sangat personal sifatnya. Bisa berbeda bahkan terbalik dengan pendapat orang pada umumnya. Persis seperti pendapat Djenar Maesa Ayu tentang inspirasi di atas.
Read more ...

Dewi “Dee” Lestari : Hadiah Terbesar untuk Sang Penulis

Dewi 'Dee' Lestari
Untuk menjadi penulis yang berhasil tentu dibutuhkan perjuangan panjang. Di dalamnya ada kerja keras dan kerja cerdas. Waktu, tenaga, uang, dan  terutama pemikiran,  banyak disedot  untuk pencapaiannya. Tidak ada jalan instant agar seseorang  bisa menjadi penulis sukses.
 
Perjuangan panjang itu tentu pantas mendapatkan hadiah, hadiah dari kehidupan. Lalu, apa saja hadiah-hadiah yang didapatkan para penulis yang berhasil dalam kariernya? Apa pula hadiah terbesarnya? Inilah dia.Pertama-tama, sebuah hadiah yang menyenangkan, yakni  dimuatnya tulisan di koran/majalah. Keberhasilan menembus koran/majalah merupakan salah satu tahapan penting sebagai wujud keberhasilan bagi seorang penulis yang tengah memantapkan karier kepenulisannya. Kalau sebuah artikel dikirim ke sebuah media massa dan kemudian berhasil dimuat, duh alangkah gembira rasahanya hati. Hal ini bisa menjadi penyemangat yang luar biasa untuk meraih kesuksesan berikutnya.
 
Hadiah kedua, berupa honorarium yang datang belakangan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa, tapi tetap menyenangkan. Honor itu menjadi begitu berharga karena diperoleh dengan usaha keras. Ada kegembiraan kalau pada suatu ketika Pak Pos datang dan berujar: “Pak/Bu, ini ada wesel dari koran/majalah.”
 
Lalu, hadiah ketiga, berupa sms atau telepon dari seorang teman. Dari seberang, seorang sahabat berkata: “Hei, kawan, saya sudah baca tulisanmu di koran/majalah hari ini. Bagus. Selamat ya, sukses.” Mendapatkan ucapan selamat dan dukungan seperti itu, siapa juga tidak senang. Atensi semacam ini bisa menjadi penyemangat untuk meraih keberhasilan-keberhasilan berikutnya.
 
Hadiah keempat? Ini mungkin terbilang hadiah terbesar untuk penulis sekaligus bagi kemuliaan hidup manusia. Novelis Dewi Lestari yang lebih dikenal dengan nama ngetop, Dee, punya pendapat tentang hadiah terbesar ini. Ia bilang, bahwa hadiah terbesar sebagai  penulis adalah ketika karyanya dapat menyentuh, bahkan mengubah hidup pembacanya.

Tentu saja untuk menyentuh pembaca, apalagi mengubah hidup pembaca, bukanlah perkara gampang. Tetapi, itulah hadiah terbesar bagi  seorang penulis yang pantas  diperjuangkan. Siapa mau melangkah mendapatkannya?
Read more ...

Tata Cara Mengirim Artikel ke Koran

I Ketut Suweca


Ketika memposting tulisan berjudul “Menulis Artikel untuk Koran, Yuk!”  di lapak ini, sahabat kita, Mas Chris Suryo, meminta saya menulis lebih detail lagi tentang tata cara pengiriman naskah ke koran. “Bermanfaat sekali Pak Ketut. Lebih teknis lagi dong. Bentuk huruf, spasi, dll. Terus masalah disket, email…,” komentarnya.
Sebenarnya, hal ini sudah pernah saya tulis sebelumnya di kompasiana, di samping saya tulis juga secara lebih rinci di dalam buku Subconscious Mind Writing: Memanfaatkan Kemampuan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar dalam Penulisan, diterbitkan Udayana University Press, tahun 2011. (Buku ini sudah beredar di TB Gramedia dan Togamas, harga Rp.45.000,-)
Akan tetapi, agar Mas Chris dan sahabat yang memerlukan tidak penasaran dan dapat terpenuhi keinginannya yang sangat baik itu, di sini saya kemukakan kembali tentang tata cara pengiriman naskah ke koran dan hal-hal lain yang berkaitan, sbb.:
1.      Ketik naskah Anda dengan rapi dan cermat;
2.      Pergunakan font Times New Roman, 12, 1,5 spasi, 3-5 halaman kertas A4;
3.      Lengkapi dengan Kata Pengantar  tulisan yang ditujukan ke alamat Redaksi;
4.      Lengkapi pula dengan identitas diri yang terkait dengan kompetensi;
5.      Kirim naskah Anda melalui pos atau melalui email;
6.      Untuk pengiriman via pos, sertai dengan amplop dan prangko pengembalian;
7.      Tunggu kira-kira dua minggu (untuk koran harian) sejak saat pengiriman untuk meyakini naskah itu ditolak atau diterima;
8.      Pada umumnya tidak ada pemberitahuan dari Redaksi sebuah naskah akan dimuat atau ditolak;
9.      Anda sebagai penulislah yang mesti rajin memonitor untuk mengetahui naskah Anda dimuat atau tidak (bisa dilihat di situs web koran tersebut atau dengan mendapatkan cetakannya);
10.  Jika tidak dimuat, Anda boleh memilih untuk membuat naskah baru atau merevisi naskah tadi dan mengirimkannya ke koran lain;

Itulah ikhwal pengiriman artikel ke koran yang umumnya berlaku sesuai dengan pengalaman penulis. Ayo, segeralah menulis dan kirim ke koran. Jangan ragu-ragu, jangan malu-malu.
Kalau naskah Anda dimuat, nikmatilah kepuasan batin yang luar biasa. Nikmati  ekstase intelektual yang tiada duanya.
Read more ...

Enam Langkah Jitu Mengedit Artikel

I Ketut Suweca


Beberapa kali saya menulis di lapak ini tentang pentingnya editing sebelum sebuah artikel dikirim ke media massa. Akan tetapi, pembicaraan tentang pentingnya editing saja belum cukup. Diperlukan bagaimana cara mengedit tulisan sehingga hasilnya memuaskan. Di bawah ini penulis menyampaikan cara mengedit tulisan yang biasa penulis praktikkan sebelum menuntaskan dan mengirimkan sebuah artikel ke media yang diharapkan memuatnya. Inilah langkah jitu mengedit artikel dimaksud.
Pertama, edit isi artikelnya. Hal pokok yang hendak dikomunikasikan oleh penulis kepada pembaca adalah konten tulisan. Terkait dengan pengeditan isi, kita dapat memeriksa apakah ide-ide yang hendak kita sampaikan sudah tertuang dengan pasti dan jelas dalam artikel kita? Jangan sampai, maksud menyampaian sejumlah ide dalam sebuah artikel, tapi yang tertulis hanya sebagian saja. Jadi, substansi artikel mesti mencerminkan isi yang dimaksudkan.
Kedua, edit ejaan dan tata bahasanya. Untuk hal ini, kita bisa mempedomani EYD dan tata bahasa yang sedang diberlakukan. Sebisanya para penulis bergerak dalam kaidah bahasa yang ditetapkan. Sekadar contoh, penulisan kata depan dan awalan paling sering dicampuradukkan. Mestinya, “di” sebagai awalan menyatu dengan kata kerja yang mengikutinya, sehingga yang benar bukan “di makan” melainkan “dimakan.” Selanjutnya, kata depan “di” sebagai penunjuk tempat semestinya lepas dari kata yang mengikutinya, sehingga yang betul bukan “dirumah” melainkan “di rumah.”  Kuncinya:  kalau di belakang “di” terdapat kata keterangan tempat, maka “di” harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Hal ini tampak sangat sepele, tapi acapkali dilupakan atau kurang mendapat perhatian.
Ketiga, edit sistematika dan logikanya. Sistematisasi tulisan adalah hal wajib pada setiap artikel, makalah, dan tulisan lain apa pun jenisnya. Tulisan yang tak sistematis bisa membingungkan pembaca. Maka, sejak awal membuat kerangka tulisan mesti sudah ditetapkan mana ide yang akan ditempatkan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Sistematika ini berkait erat dengan logika. Jika sistematika tidak baik, dapat dipastikan logikanya pun nggak jalan. Bisa jadi melompat-lompat atau tersendat-sendat. Dengan sistematika dan logika yang baik, para pembaca akan merasa bagai berenang mengikuti air mengalir, mudah memahami konten tulisan kita.
Keempat, edit kosa katanya. Setiap kali menulis, pertanyaan yang muncul adalah: sudahkah kosa kata artikel yang ditulis cukup kaya? Kekayaan perbendaharaan kata dapat dilihat dari variasi kata-kata yang dipakai dalam mengekspresikan pikiran ke dalam bahasa tulis. Kurangi pengulangan-pengulangan kata tertentu yang membuat tulisan monoton dan menjemukan. Kian beragam kosa kata yang digunakan, maka kian segar pula sebuah artikel. Variasi kata menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Bagai gadis cantik, tulisan yang kosa katanya bervariasi, cenderung menarik pembaca untuk “mencumbui”-nya. Jangan pernah ragu menggunakan bahasa lain sebagai variasi, seperti bahasa Inggris dan bahasa daerah. Tak perlu terpaku memakai bahasa Indonesia dan alergi menyelipkan bahasa lain. Ingatlah, bahasa Indonesia pun terbentuk dari berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa daerah dan bahasa Inggris. Hanya saja, hendaknya tidak  berlebihan. Pakailah seperlunya saja.
Kelima, edit teknik penyampaiannya. Setiap penulis tentu berharap agar tulisannya enak dibaca. Untuk mencapai itu, pilih kata-kata yang up to date dan familier dengan pembaca. Hindari penulisan yang zakelik, sehingga artikel kita terasa  kaku dan membosankan. Usahakan tulisan kita bergaya populer. Akan tetapi, jangan pula hanya gara-gara ingin ngepop, lalu jadi berlebihan sehingga terkesan ceriwis dan main-main.
Ringkasnya, yang perlu kita edit sebelum menuntaskan sebuah artikel meliputi isi, ejaan dan tata bahasa, sistematika, logika, kosa kata, dan teknik penyampaiannya. Kalau kelima hal itu dilakukan, maka yakinlah tulisan kita akan berpeluang besar untuk dimuat di media seperti koran atau majalah.Beberapa kali saya menulis di lapak ini tentang pentingnya editing sebelum sebuah artikel dikirim ke media massa. Akan tetapi, pembicaraan tentang pentingnya editing saja belum cukup. Diperlukan bagaimana cara mengedit tulisan sehingga hasilnya memuaskan. Di bawah ini penulis menyampaikan cara mengedit tulisan yang biasa penulis praktikkan sebelum menuntaskan dan mengirimkan sebuah artikel ke media yang diharapkan memuatnya. Inilah langkah jitu mengedit artikel dimaksud.
Pertama, edit isi artikelnya. Hal pokok yang hendak dikomunikasikan oleh penulis kepada pembaca adalah konten tulisan. Terkait dengan pengeditan isi, kita dapat memeriksa apakah ide-ide yang hendak kita sampaikan sudah tertuang dengan pasti dan jelas dalam artikel kita? Jangan sampai, maksud menyampaian sejumlah ide dalam sebuah artikel, tapi yang tertulis hanya sebagian saja. Jadi, substansi artikel mesti mencerminkan isi yang dimaksudkan.
Kedua, edit ejaan dan tata bahasanya. Untuk hal ini, kita bisa mempedomani EYD dan tata bahasa yang sedang diberlakukan. Sebisanya para penulis bergerak dalam kaidah bahasa yang ditetapkan. Sekadar contoh, penulisan kata depan dan awalan paling sering dicampuradukkan. Mestinya, “di” sebagai awalan menyatu dengan kata kerja yang mengikutinya, sehingga yang benar bukan “di makan” melainkan “dimakan.” Selanjutnya, kata depan “di” sebagai penunjuk tempat semestinya lepas dari kata yang mengikutinya, sehingga yang betul bukan “dirumah” melainkan “di rumah.”  Kuncinya:  kalau di belakang “di” terdapat kata keterangan tempat, maka “di” harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Hal ini tampak sangat sepele, tapi acapkali dilupakan atau kurang mendapat perhatian.
Ketiga, edit sistematika dan logikanya. Sistematisasi tulisan adalah hal wajib pada setiap artikel, makalah, dan tulisan lain apa pun jenisnya. Tulisan yang tak sistematis bisa membingungkan pembaca. Maka, sejak awal membuat kerangka tulisan mesti sudah ditetapkan mana ide yang akan ditempatkan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Sistematika ini berkait erat dengan logika. Jika sistematika tidak baik, dapat dipastikan logikanya pun nggak jalan. Bisa jadi melompat-lompat atau tersendat-sendat. Dengan sistematika dan logika yang baik, para pembaca akan merasa bagai berenang mengikuti air mengalir, mudah memahami konten tulisan kita.
Keempat, edit kosa katanya. Setiap kali menulis, pertanyaan yang muncul adalah: sudahkah kosa kata artikel yang ditulis cukup kaya? Kekayaan perbendaharaan kata dapat dilihat dari variasi kata-kata yang dipakai dalam mengekspresikan pikiran ke dalam bahasa tulis. Kurangi pengulangan-pengulangan kata tertentu yang membuat tulisan monoton dan menjemukan. Kian beragam kosa kata yang digunakan, maka kian segar pula sebuah artikel. Variasi kata menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Bagai gadis cantik, tulisan yang kosa katanya bervariasi, cenderung menarik pembaca untuk “mencumbui”-nya. Jangan pernah ragu menggunakan bahasa lain sebagai variasi, seperti bahasa Inggris dan bahasa daerah. Tak perlu terpaku memakai bahasa Indonesia dan alergi menyelipkan bahasa lain. Ingatlah, bahasa Indonesia pun terbentuk dari berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa daerah dan bahasa Inggris. Hanya saja, hendaknya tidak  berlebihan. Pakailah seperlunya saja.
Kelima, edit teknik penyampaiannya. Setiap penulis tentu berharap agar tulisannya enak dibaca. Untuk mencapai itu, pilih kata-kata yang up to date dan familier dengan pembaca. Hindari penulisan yang zakelik, sehingga artikel kita terasa  kaku dan membosankan. Usahakan tulisan kita bergaya populer. Akan tetapi, jangan pula hanya gara-gara ingin ngepop, lalu jadi berlebihan sehingga terkesan ceriwis dan main-main.
Ringkasnya, yang perlu kita edit sebelum menuntaskan sebuah artikel meliputi isi, ejaan dan tata bahasa, sistematika, logika, kosa kata, dan teknik penyampaiannya. Kalau kelima hal itu dilakukan, maka yakinlah tulisan kita akan berpeluang besar untuk dimuat di media seperti koran atau majalah.
Read more ...

Penutup Artikel Bergaya Menggugah

I Ketut Suweca


Seperti halnya kalimat-kalimat pembuka atau lead, penutup atau ending sebuah artikel pun seyogianya memiliki gaya menggugah. Kalau paragraf pertama diharapkan mendorong pembaca agar tertarik dan lanjut membaca tulisan itu, maka paragraf penutup dimaksudkan agar pembaca terkesan. Lantas bagaimana paragraf  penutup sebuah artikel yang memiliki daya gugah?


Mari kita perhatikan tiga contoh paragraf penutup berikut ini:
1.      “Mahasiswa tak perlu dipandang sebagai juru selamat atau ratu adil yang kedatangannya perlu dinantikan. Mahasiswa juga tidak perlu dipandang eksklusif sehingga harus selalu berjuang sendirian. Mari berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik” ( Okki Sutanto, Mahasiswa dan Kolaborasi, Kompas, Selasa, 27 Desember 2011, hal. 7).

2.      “Ijinkan penulis mengakhiri tulisan ini dengan puisi Cesaire yang dikutip Frantz Fanon (2000:65): Namaku sakit hati/nama baptisku pengkhianat/statusku pemberontak/usiaku seusia batu/rasku ras manusia/agamaku persaudaraan”. (Fajar Riza Ul Haq, Bakar Diri dalam Demokrasi SBY, Kompas, Selasa, 20 Desember 2011, hal. 6).

3.      “Sebagai penutup, marilah kita renungkan apa yang sebenarnya kita dapatkan dari hidup ini. Bukankah kita datang ke dunia dalam kondisi telanjang? Bukankah kita meninggalkan dunia ini hanya dengan membawa selembar kain putih? Jadi, hanya itukah keuntungan yang kita peroleh sepanjang hidup di dunia?” (Arvan Pradiansyah, Untuk Selembar Kain Putih, Majalah Swasembada, Edisi 1-14 Februari 2007, hal. 126).

Paragraf penutup pada intinya merupakan  kesimpulan dari keseluruhan uraian yang dipaparkan sebelumnya. Kalimatnya menggugah dan benar-benar pilihan. Acapkali ditambahkan dengan kata-kata mutiara, ajakan, pertanyaan, saran, renungan, atau harapan.
Nah, bagaimana dengan penutup artikel yang Anda ciptakan?
Read more ...

Komitmen Menulis, Adakah Kita Miliki?


I Ketut Suweca


Mengapa ada orang yang mampu menelorkan  artikel hampir setiap hari?
Mengapa pula ada yang  menghasilkan  tulisan sesekali dan  setelah itu berhenti?
Mengapa pula ada orang yang rajin memelihara  keinginan menulisnya tapi tak satu pun karya dihasilkannya?
Apa sesungguhnya rahasia yang membedakan di antara mereka?
Rahasia  utamanya   ada pada komitmen.
Adakah komitmen di dalam diri kita untuk menulis?
Komitmen itu ada dan kuat  jika kita memandang :
Menulis adalah aktivitas yang penting ;
Menulis adalah pilihan hidup;
Menulis adalah petualangan imajiner yang menarik ,menantang, dan seru;
Menulis adalah tugas yang diletakkan pada  prioritas pertama;
Menulis adalah aktivitas yang tak bisa “boleh ada boleh tidak”;
Menulis adalah pendorong untuk menjadi manusia pembelajar;
Menulis adalah pembabat rasa malas dan beban batin;
Menulis adalah cara unik dan spesial dalam mengekspresikan diri;
Menulis adalah cara untuk mengamalkan ilmu;
Manulis adalah cara bersyukur kepada Tuhan;
Menulis adalah cara berkontribusi bagi sesama;
Menulis adalah perjuangan dan pilihan hidup;
Menulis adalah sumber kebanggaan;
Menulis adalah sumber kegembiraan;
Menulis adalah sumber kegairahan hidup;
Menulis adalah sumber kebahagiaan;
Menulis adalah cara membuat warisan sebelum maut menjemput;
Selamat menulis.
Read more ...

Isi Tulisan Adalah “Raja”

I Ketut Suweca

Di antara sekian hal penting dalam sebuah karya tulis, menurut Anda bagian manakah yang paling penting?  Ada pendapat, isinya-lah yang paling penting dalam sebuah tulisan. Bisa saja sebuah tulisan yang dikreasi sedemikian rupa agar tampak menarik, tapi kalau isinya terdiri atas hal-hal sudah diketahui umum, maka nilainya hampir tak berarti. Harus ada sesuatu yang laku  “dijual” pada sebuah karya.  Orang menyebut tulisan tanpa isi sama saja  dengan tulang tak berdaging.   Jadi,  isi (content) demikian penting.
Ada pula pendapat bahwa cara menuliskannya-lah yang terpenting.  Mengapa? Karena, kendati sebuah tulisan yang sesungguhnya mengandung hal-hal  berguna bagi pembaca namun jika tidak ditulis dengan baik, maka akan menjadi percuma. Tulisan yang tak disusun dengan baik -- tidak menggunakan sistematika yang seharusnya, melupakan EYD, sama sekali tidak menghiraukan penalaran -- seperti apa kira-kira jadinya? Kacau-balau, bukan? Orang  pasti  emoh membaca artikel semacam itu. Kalaupun, misalnya, ada yang  bersedia membaca, tak ada sesuatu  yang bisa  dipetik  dari sebuah tulisan yang telah “berhasil” membingungkan pembaca. Jadi, cara/teknik mengungkapkan pikiran melalui bahasa tulis  juga sangat penting.
Akhirnya, mungkin kita sepakat bahwa bukan hanya “apa”-nya yang penting, bahkan juga “bagaimana”-nya pun urgen. Jadi, isi tulisan dan cara membahasakannya sama-sama penting, tak ada salah satu yang lebih penting di antara keduanya.
“Content is the king. Language is the queen,” ujar  Jakob Oetama sebagaimana ditulis St. Sularto dalam buku  “Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama”(Penerbit Buku Kompas, 2011: 265).
Selamat menulis sahabatku. Salam hangat.
Read more ...

Lima Alasan untuk Tidak Menulis

I Ketut Suweca

Menulis atau mengarang bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang pantas dihindari. Mengapa? Ada beragam dalih yang jitu untuk tidak menulis. Mari kita lihat lima di antara sejumlah dalih yang acap kita dengar. Inilah dia.
1.      Takut dicemooh. Ada orang yang ingin memiliki kemampuan sempurna terlebih dahulu, baru bersedia menuliskan ide-idenya. Ia harus pintar dulu, baru menulis. Ia ingin agar pembaca yang menyimak tulisannya tidak mencemooh, bahkan sebaliknya, terkagum-kagum terhadap kualitas tulisan yang ditampilkan. Padahal, kesempuranaan itu bukan milik kita umat manusia. Lalu, kapan kesempurnaan itu ada untuk berani menulis? Oleh karena itu, mari menulis saja, jangan tunggu menjadi manusia pintar dan sempurna terlebih dahulu.
2.      Takut ditolak. Ketakutan tulisan ditolak sama saja dengan orang yang kalah sebelum berperang. Pejuang sejati harus berani maju ke medan perang dan mengupayakan penyerangan dan pembelaan diri. Begitu pula kalau takut ditolak tulisannya, ya, susah mau jadi penulis beneran. Penolakan redaksi sebuah koran atau majalah, bagi para penulis sudah menjadi hal biasa. Jadi, jangan takut tulisan kita ditolak. Tulis saja, kirim saja.
3.      Tidak punya ide. Ini alasan klasik. Ada banyak orang yang kesulitan menemukan ide untuk ditulis. Solusinya adalah : rajin membaca, cermat mendengar, aktif berdiskusi, dan aktif mencatat. Keempat hal itu akan sangat membantu kita mendapatkan ide-ide cemerlang dan merangsang inspirasi datang.
4.      Tidak ada waktu. Ini juga alasan klasik. Salah satu dalih yang paling jitu untuk tidak menulis adalah dengan mengatakan tidak punya waktu. ‘Saya sibuk sekali’ mungkin begitu alasan yang diberikan. Untuk mengatasi hal ini, kiranya perlu kebijakan dalam mengelola waktu.
5.      Tidak tahu bagaimana menuliskan ide. Nah, kalau ini persoalan teknis semata. Ada cukup banyak ide, tapi tak sanggup menuliskan dan memulainya dari mana. Untuk mengatasinya tentu yang bersangkutan harus belajar teknik menulis. Permasalahan semacam ini bisa diatasi dengan penyusunan kerangka karangan atau outline. Berdasarkan outline itulah, tulisan dikembangkan secara sistematis.
Kalau seseorang mempunyai komitmen untuk menulis atau menjadi penulis, maka segala rintangan akan dihadapi dengan gagah berani. Maju terus, serang terus. Andakah itu orangnya?
Read more ...

Penulis Itu Pembaca dengan Metode “Triple Track”

I Ketut Suweca

Penulis itu adalah seorang pembaca, ya pastilah. Tanpa membaca, seseorang tak akan menjadi penulis yang berhasil. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan pembaca dengan metode “triple track?” Mari kita mulai menjawabnya.
Pertama, seorang penulis pastilah seorang pembaca karya orang lain.  Entah yang dibaca itu buku, majalah, koran atau media online/internet. Dari berbagai media tersebut, si penulis akan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan itu dicerap sedemikian rupa ke dalam batin. Dengan referensi yang luas, maka pada suatu saat ia pun akan mengalami “kehamilan” dan melahirkan karya-karyanya sendiri.  Semakin luas bacaannya,  kian berbobot karya yang dihasilkan sang penulis. Membaca itu wajib baginya, bahkan sudah menjadi menu harian.
Kedua, seorang penulis adalah pembaca yang “membaca” kebutuhan pembaca. Membaca kebutuhan pembaca berarti mengamati dengan seksama perkembangan yang terjadi di bidangnya. Juga,  membaca dinamika kehidupan yang dialaminya  dan kehidupan di sekitarnya. Jika ingin tulisannya “laku dijual” dalam arti dibutuhkan pembaca, maka dia mesti mengikuti tema yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.  Bahkan, idealnya, sang penulis mampu membawa pembaca ke arah pencerahan batin dan kemuliaan hidup.
Ketiga, seorang penulis adalah pembaca tulisannya sendiri. Pada saat editing, dia harus mengoreksi tulisannya dengan cermat, bahkan sampai berkali-kali, sebelum dipublikasikan melalui media online seperti kompasiana, majalah, koran, atau buku. Tanpa mengoreksi terlebih dahulu  dengan cermat, karyanya tak mungkin bebas dari kesalahan. Walau sudah dikoreksi berkali-kali pun, kadangkala masih saja ada kesalahan, seperti kesalahan ketik.
Jadi, ada tiga tahap/jalan (triple track) yang dilakukan penulis dalam posisi sebagai pembaca, yakni membaca karya orang lain, membaca kebutuhan pembaca selaras dengan perkembangan yang tengah berlangsung, dan membaca tulisannya sendiri untuk tujuan editing.
Selamat menulis.
Read more ...

Editing, Seberapa Penting?

I Ketut Suweca

Para penulis senior selalu mengingatkan betapa pentingnya  editing atau pengeditan naskah. Sebelum sebuah tulisan dikirim ke redaksi koran/majalah atau ke media online, pengeditan tak boleh ditinggalkan. Jika tak dilakukan, maka kemungkinan besar naskah yang terkirim masih banyak kesalahannya. Pengeditan merupakan finishing process dalam mengerjakan sebuah karya tulis.
Pengeditan pada umumnya dipilah menjadi dua, yakni pengeditan pada  aspek kebahasaan dan pengeditan aspek logika. Aspek kebahasaan dimaksudkan adalah yang terkait dengan pemakaian bahasa tulis, seperti tanda baca, diksi, ejaan, dan sebagainya. Selanjutnya, aspek logika meliputi penalaran, koherensi (keterkaitan/keterpaduan), sistematika isi, termasuk memperbaiki kesalahan pada data, nama, dan alamat. Sebuah karya tulis yang baik, bukan hanya bahasanya yang harus baik dan benar, bahkan isinyapun mesti  logis, runut, dan mengandung kejujuran.
Setelah selesai diketik untuk pertama kalinya sebuah naskah akan melalui proses editing sebagaimana disebutkan di atas. Usai pengeditan tahap pertama, sebaiknya naskah dibiarkan dulu beberapa waktu. Kita bisa beralih mengerjakan tugas lain yang tak ada hubungannya dengan naskah tersebut. Ini dimaksudkan agar pikiran kita segar kembali.  Ketika melihat naskah itu kemudian, kita bisa mengoreksi dengan lebih cermat kesalahan-kesalahan yang mungkin masih ada. Untuk naskah ke media cetak atau koran bahkan sangat dianjurkan untuk menyimpannya minimal selama sehari sebelum diperiksa sekali lagi menjelang dikirim.
Bertautan dengan ini, saya mempunyai kebiasaan meminta bantuan anak untuk membaca naskah saya secara cermat sebelum  mengirim ke media cetak. Anak saya yang kelas XII SMA akan membacanya dari awal hingga akhir. Yang diperiksanya terutama yang berkaitan dengan kesalahan ketik, irama tulisan, dan kemudahan dalam memahami isi. Kalau dia mengatakan “sudah cukup” atau “sudah bagus”, maka saya segera mempublikasikannya. Kalau dalam pengeditan itu, dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan dalam teks, maka saya mesti memperbaiki naskah tadi. Itu bisa berarti ada kata-kata sulit yang mesti dicarikan padanannya dalam bahasa yang lebih sederhana. Jadilah anak saya adalah editor naskah-naskah saya.
Untuk tujuan publikasi di koran/majalah, saya membayangkan pembaca naskah itu rata-rata berpendidikan SMA. Jadi bahasa dan logika yang dipakai sesuai dengan tingkatan pendidikan calon pembaca. Kalau anak saya yang siswa SMA sudah bisa paham, maka pembaca pun  saya yakin akan mengerti. 
Read more ...